RSS

Pembagian Sertipikat Tanah PRONA…

[caption id="attachment_1…

Pentas Kuda Lumping "Turangga In…

[caption id="attachment_1…

Jalan Santai PKK se desa Merden

Merden - Masih dalam rang…

Pelantikan dua Anggota DPRD II B…

Merden - Kamis (14/8) kem…

Gebyar Pitulasan Desa

Sudah menjadi sebuah kela…

SMP N 2 Purwanegara di desa Merd…

SMP Negeri 2 Purwanegara …

Muhasabah berjamaah menuju Merde…

Merden Desa "Idola Baru" …

Sugeng Riyadi 1435 H

"Taqobalalloohu Minnaa Wa…

Karang Taruna Urang Jaya, Hidupk…

Merden - upaya menghidupk…

Merden Adventure Trail Community…

Merden - Matric pada awal…

«
»
TwitterFacebook

Merden menuju Desa Mandiri (Refleksi HUT ke-67 RI)

Dalam perspektif kata “desa” memiliki beberapa makna. Seperti  penjelasan dari beberapa ahli :

1.R.Bintarto. (1977), Desa adalah merupakan perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis politik, kultural setempat dalam hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain.

2.Sutarjo Kartohadikusumo (1965), Desa merupakan kesatuan hukum tempat tinggal suatu masyarakat yang berhak menyelenggarakan rumahtangganya sendiri merupakan pemerintahan terendah di bawah camat.

3.William Ogburn dan MF Nimkoff, Desa adalah kesatuan organisasi kehidupan sosial di dalam daerah terbatas.

4.S.D. Misra, Desa adalah suatu kumpulan tempat tinggal dan kumpulan daerah pertanian dengan batas-batas tertentu yang luasnya antara 50 – 1.000 are.”

5.Paul H Landis, Desa adalah suatu wilayah yang jumlah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan cirri-ciri sebagai berikut :

  1. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antra ribuan jiwa
  2. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan
  3. Cara berusaha (ekonomi) aalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.

Lalu menurut tata aturan yang termaktub dalam UU no. 22 tahun 1999, Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten, dan menurut UU no. 5 tahun 1979, Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; (http://id.wikipedia.org/wiki/Desa#Pengertian_Desa_menurut_para_ahli)

Ternyata ada banyak makna yang menjelaskan makna “desa”, yang kalau kita ambil benang merahnya merupakan perwujudan dari kondisi geografis, kesatuan hukum, organisasi, luas wilayah, tempat tinggal, jumlah penduduk yang memiliki keistimewaan untuk mengurus kepentingan masyarakatnya sendiri atau menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam batasan ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Dari penjelasan tersebut ada satu kata kunci yang mungkin selama ini mulai dilupakan banyak orang, padahal kata kunci ini sangat melekat pada jati diri sebuah desa. Apa kata kuncinya? kata kuncinya adalah kewenangannya untuk mengatur rumah tangganya sendiri atau bisa diartikan dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain tentu dalam bingkai batasan-batasan perwujudan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merujuk dari kamus besar Bahasa Indonesia, kalimat “dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung dari orang lain” adalah makna dari kata Mandiri.

Dari uraian diatas secara makna ternyata, arti dari Desa Mandiri adalah kembali kepada makna “Desa” itu sendiri. Sesuatu yang memang sudah menjadi keharusan kalau desa itu harus mandiri. Mandiri dalam lingkup yang lebih luas tentunya. Kita tidak boleh apriori dengan menisbatkan makna itu sebagai sebuah hal yang mustahil, dengan melihat gambaran yang terjadi saat ini terkait banyak desa yang sangat menggantungkan urusannya kepada pemerintah atau pihak lain. Memang benar, dalam hal kepentingan, pemerintah tidak lantas begitu saja membiarkan desa untuk “hidup” sendiri/terpisah, tapi bukan berarti menjadikan pemerintah menjadi satu-satunya harapan untuk desa bisa “berdaya”. Lihatlah, banyak sekali hal yang bisa kita lakukan di desa untuk mengembangkan berbagai macam potensi yang ada, tentu setelah potensi itu berkembang harusnya secara otomatis desa juga ikut berkembang. Potensi-potensi itu tidak lantas kita bayangkan sebagai dana cash yang bisa kita hitung dalam angka-angka bukan, tapi potensi yang bisa kita jadikan sebagai sebuah aset desa.

Kalau pemahan itu sudah terbentuk pada pikiran kita semua maka desa tidak akan susah untuk mengembangkan peranya yang besar dalam kancah pembangunan di segala bidang. Tentu ada syarat lain yang dibutuhkan diantaranya transparansi/keterbukaan dari semua elemen masyarakat desa, Tingkat kepercayaan yang terbangun dengan baik diantara masyarakat dan masyarakat desa, masyarakat desa dan pemerintah desa serta kapasitas yang  memadai yang dimiliki oleh desa untuk mengelola semua potensi itu dengan baik. Sebuah PR besar memang, tapi kita harus yakin bahwa itu semua bisa terwujud jikalau semua pihak menyadari.

Tidak terkecuali dengan Desa Merden. Desa Merden merupakan salah satu desa yang memiliki potesni luar biasa untuk dikembangkan secara jujur dan terukur. Baik potensi Sumber Daya Manusianya, potensi ekonominya, potensi wilayahnya, potensi adat budaya dan lain-lain. Hal itu sebenarnya sudah dibuktikan oleh para pendahulu-pendahulu Merden. Kalau diibaratkan Merden sudah diberi pondasi yang sangat kokoh oleh mereka untuk membangun Merden menjadi lebih maju. Contohnya : Kemajuan yang dimiliki Merden dalam membangun sarana-sarana pendidikan seperti proses lahirnya sekolah MI di Merden Wetan, MI di Rawawungu, Mts di Merden Tengah, kemudia sarana perekonomian seperti adanya pasar Merden, sarana peribadatan seperti Masjid Darul Falakh di prapatan, Masjid Attaqwa di Pesantren, sarana organisasi kemasyarakatan seperti keberadaan Muhammadiyah di Merden, potensi sejarah dan budaya seperti adanya cerita-cerita sejarah babad Merden yang merupakan bukti kemajuan peradaban desa saat itu dll.Semua itu bisa terwujud berkat semangat kemandirian yang di buktikan oleh mereka para pendahulu-pendahulu kita.

Jadi sangat pantas sekali jika Merden harus menjadi Desa Mandiri. Berdaya sendiri untuk membangun Merden tanpa harus menjadikan pemberian/belas kasihan “orang lain” sebagai tujuan, justru sebaliknya. Apalagi sekarang ini banyak sekali sarana-sarana yang bisa dimanfaatkan untuk mengangkat potensi yang ada di Desa Merden itu, diantaranya dengan memanfaatkan tekhnologi yang mau tidak mau harus kita jadikan sebagai sarana yang sangat penting. Kesimpulannya, semangat kemandirian desa harus dipahami sebagi ruh yang menggerakan Merden seperti yang dicontohkan para pendahulu-pendahulu menuju Merden maju disesuaikan dengan konteks perkembangan jaman.

Akhirnya, masa lalu merupakan sebuah sejarah dan apa yang kita lakukan sekarang secara tidak langsung adalah sebuah torehan sejarah untuk masa yang akan datang, tinggal kita ingin warna sejarah itu seperti apa? Sejarah kelam atau sejarah yang mencerahkan untuk generasi kita dimasa yang akan datang.

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-46 Republik Indonesia , Jayalah Indonesiaku… Jayalah Merdenku…. Amin.